Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah. Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum. "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu. Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...
Sumber: Gambar Ilustasi Impet e . Sudah lama sekali tidak bertemu. Beberapa kali perjumpaan hanya via hp. Tapi itu tidak pernah benar-benar menghilangkan dahaga. Barangkali benar seperti yang om Candra Malik bilang kalo “aroma tubuh, dari jiwa yang rapuh, melebihi rindu, melampaui waktu. Berpelukan, untuk itulah kita dipertemukan. ” Tapi, sa tetap temukan hikmah di balik setiap situasi e. Seandainya dulu kita tidak pernah memilih jarak, apakah perayaan bagi pertemuan tetap istimewa seperti dua kali dalam setahun sebagaimana yang kita rayakan selama ini ka ? Saya tidak begitu yakin untuk mengiyakan itu pertanyaan ta , sebab syukur dalam bentuk yang berbeda tetap menghasilkan makna yang berbeda juga. Sekurang-kurangnya begini, kita bisa lebih mendekatkan diri pada Yang Esa. Karena “hidup adalah doa yang luas” seperti alm. Sapardi bilang. Kita belajar bahwa doa adalah cara memeluk dari jauh,...