Langsung ke konten utama

Malam dan Mantra-Mantra



Foto twitter: @sofwanchild

Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja!

Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan menciptakan mantra sugesti kepada para pendengar. Semua orang menyanyikannya, atau paling kurang mendengung bila suara yang diciptakan hanya enak bila didengar sendiri. Di kelas, kamar basuh, ruang rekreasi, kamar tidur, dan beberapa tempat lain kau akan mendengarkan banyak siswa SMA bersorak lagu itu seperti tengah menciptakan satu paduan suara. Tidak terkecuali kami-kami ini, walau tergolong dalam kelompok orang yang kalau bernyanyi enak untuk didengarkan oleh telinga sendiri saja! 

Sejak saat itu, saya mulai mencintai karya-karya Kunto Aji; mengikuti dia di Instagram dan akun media sosial lainnya, mendengarkan lagu-lagunya, menonton podcast, dan beberapa hal berkaitan dengan Kunto Aji. 

Lalu, apa korelasi malam hari sebagai waktu kondusif dengan Mantra-Mantra, album Kunto Aji?

Di malam hari, walau tidak sedang hujan, puisi-puisi bertunas. Story-story WhatsApp penuh dengan quotes-quotes kenangan dan air mata. Tidak tertinggal segala bentuk refleksi tentang pencapaian, pun kegagalan bagi mereka yang tidak segan untuk bercerita hal-hal buruk yang pernah dialami. Hal-hal ini jarang terjadi pada waktu-waktu lain. Saya tidak punya kekuatan teori untuk membuktikan hal ini. Asumsi saya bahwa hal ini bisa saja terjadi (barangkali) karena malam identik dengan kontemplasi, di mana manusia lebih mudah untuk masuk ke kedalaman diri. Ditambah dengan malam yang tidak lebih riuh dari  waktu yang lain (pagi, siang, dan sore). Hening, sunyi, sepi! Di dalamnya manusia mencipta sekaligus mengalami kesunyiannya masing-masing.

Tidak heran bila perasaan lebih banyak dilibatkan dalam keadaan seperti ini. Membangun monolog,  memasukkan semua dimensi waktu, lampau-kini-akan pun menanamkan kata-kata yang tidak terbaca dengan suara-suara yang tidak terdengar. Khusyuk!

Malam adalah waktu yang kondusif untuk hal apa pun; belajar, mengenang, melupakan, juga mendengarkan. Untuk yang terakhir, saya sering melakukannya. Lebih kepada mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi tertentu, yang dalam bahasa Hasief Ardiasyah sebagai, seniman yang tak kenal kompromi dalam berkarya. Mereka adalah Kunto Aji, Nadin Amizah, Sal Priadi, Pamungkas, Ardhito, dan Hindia. Penggolongan penyanyi-penyanyi ini saya buat sendiri dengan mempertimbangkan lirik sebagai bagian dari seniman yang tak kenal kompromi dalam berkarya. Selain itu ada karakter suara yang unik dan khas juga pemilihan kata dengan kiasan serupa puisi-puisi yang dinyanyikan, yang tidak dapat dilakukan oleh banyak penulis lirik. 

Barangkali ini lebih kepada keeksklusifan saya sebagai salah satu penikmat, di mana tidak semua orang ingin berpikir ketika mendengarkan sebuah lagu. Dalam karya penyanyi-penyanyi ini, kita mesti berpikir dan menafsir untuk sampai kepada pesan utama lagu. Di samping itu, saya tidak menyingkirkan seni sebagai kebebasan di mana semua manusia dapat berdiri dengan tafsirannya masing-masing. 

Album Mantra-Mantra Kunto Aji termasuk di dalam lagu dan keeksklusifan saya secara pribadi. Album yang pernah dinobatkan sebagai album terbaik pada ajang Anugerah Musik Indonesia 2019 mengangkat tema Mental Health. Sembilan lagu dalam Album ini lebih banyak diambil dari pengalaman pribadi dan pendengarnya. Berangkat dari pengalaman ini, Kunto Aji tidak hanya menciptakan lagu yang bisa dinikmati oleh para pendengar akan tetapi sekaligus memberikan energi positif bagi mereka yang memiliki kecenderungan atau pengalaman yang sama. 

Misalnya lagu Pilu Membiru sebagai lagu penutup dalam album Mantra-Mantra. Lagu ini diciptakan dari pengalaman pendengar akan kehilangan-kehilangan yang pernah mereka alami. Ketika album dan khususnya lagu ini meledak di pasaran, orang-orang dengan pengalaman yang sama seakan mendapat energi positif. Lagu ini memang diciptakan untuk dapat mendalami reaksi manusia terhadap memori atau ingatan mereka tentang suatu kehilangan. Demikian yang pernah dikatakan oleh Kunto Aji dalam podcast bersama Najwa Sihab.  

Keseluruha lagu dalam album Mantra-Mantra, dalam asumsi saya, bisa meledak karena membuka tafsiran-tafsiran lain di dalamnya. Lagu-lagu imi bisa diterima oleh semua kalangan walau sempat diragukan oleh penciptanya sendiri. Oleh karena itu, banyak orang kemudian melihat lagu ini sebagai keterlemparan di mana mereka menerima kemudian berusaha untuk merelasikannya dengan pengalaman pribadi. Apalagi bila didengarkan pada waktu yang kondusif, kita lebih mampu mencerna lirik-lirik itu dengan lebih baik.

Sebagaimana mempelajari mata pelajaran yang sulit, mendengarkan musik dengan saksama juga dapat dilakukan pada malam hari sebagai waktu kondusif yang dialami oleh banyak orang. 

Seperti ketika menulis “Malam dan Mantra-Mantra”, saya tengah mendengarkan lagu Rehat. 

Yang dicari hilang. Yang dikejar lari. Yang ditunggu yang diharap, biarkanlah semesta bekerja. Untukmu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...