Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Berry Unggas





Siapakah Aku Ini

Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci
aku, selepas sujud Malaikat Tuhan,
tengah menengadah membilang layar,
menangkup membilang lantai
dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya
siapakah aku ini?

Dalam pencarian akan tanya ini
Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar
yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal
atau yang tanggal?

Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci?

Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus
dan dari haus akan darah-Mu yang suci

Manusia adalah karya-Mu yang ajaib,
rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung
Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan
yang tidak akan pernah selesai
sampai Kekal


Tuhanku, sungguh!



Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening.

Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka benar-benar tidak harus lagi berkelana.

Saya duduk di dalam sebuah mata. Ketika tuan rumah beristirahat, saya menciptakan riuh rendah yang tidak berhenti sampai pagi. Ia seperti yang sebelum, tidak menyukai gaduh, demikian ketika terjaga ia akan selalu merasa terbangun dari mimpi buruk.

Ketika hendak pamit, tuan rumah marah-marah. Saya dituding sebagai tamu yang telah menciptakan hal-hal yang tidak penting; gemuruh yang tidak pernah diinginkan kening.

Ah, tuan rumah tidak tahu. Ketika tengah mencintai, seseorang tidak pernah benar-benar menciptakan hening.

Komentar

  1. Luar biasa Abanh πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih karena sudah berkunjung dan membaca tulisan inoπŸ™

      Hapus
  2. Luar biasa Abanh πŸ‘

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...