Siapakah Aku Ini
Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci
aku, selepas sujud Malaikat Tuhan,
tengah menengadah membilang layar,
menangkup membilang lantai
dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya
siapakah aku ini?
Dalam pencarian akan tanya ini
Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar
yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal
atau yang tanggal?
Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci?
Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus
dan dari haus akan darah-Mu yang suci
Manusia adalah karya-Mu yang ajaib,
rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung
Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan
yang tidak akan pernah selesai
sampai Kekal
Tuhanku, sungguh!
Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening.
Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka benar-benar tidak harus lagi berkelana.
Saya duduk di dalam sebuah mata. Ketika tuan rumah beristirahat, saya menciptakan riuh rendah yang tidak berhenti sampai pagi. Ia seperti yang sebelum, tidak menyukai gaduh, demikian ketika terjaga ia akan selalu merasa terbangun dari mimpi buruk.
Ketika hendak pamit, tuan rumah marah-marah. Saya dituding sebagai tamu yang telah menciptakan hal-hal yang tidak penting; gemuruh yang tidak pernah diinginkan kening.
Ah, tuan rumah tidak tahu. Ketika tengah mencintai, seseorang tidak pernah benar-benar menciptakan hening.

Luar biasa Abanh π
BalasHapusTerima kasih karena sudah berkunjung dan membaca tulisan inoπ
HapusLuar biasa Abanh π
BalasHapus