Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Berry Unggas






Menjelma Jarak

Kita harus menjelma jarak
kembali ke dalam untuk melebarkan diri
bagi gerbang abadi;
pun meninggikan tiang gapura-gapura
sebab Ia yang Jaya atas pertempuran
tengah memasuki kota-kota kita yang kini telah sepi

Mata kita telah menjadi air bagi akar daun-daun palem
di mana ia tumbuh dalam tangan dan mulut kita
yang tak henti-hentinya mengharap

Bukankah kehendak-Nya,
sebab denting kecapi pun nafiri
masih tidak tahu ampun gemanya?

Kau temukan jalanan serupa Yerusalem yang tak ramai
sebab jarak menjadikan kita seperti keledai
di mana iman telah mengalaskan punggung
dan Tuhan mengibaskannya dengan seru dalam haru:

Ranting-ranting Zaitun itu telah menjelma jarak; 
jarak yang bukan kesepian

Sebab dalam kerinduan,
masih kau teriaki
Hosana di tempat yang Mahatinggi!


Minggu Pagi

Minggu pagi, di teras rumahmu
kau menghaturkan syukur dan ujud sua
dalam doa-doa yang layaknya disampaikan pagi ini

Kau rapi sekali,
berpakaian kangen
memeluk dengan tangan-tangan 
yang hari ini masih saja tak sampai

Sebelum sarapan, kau mengambil satu duduk
ingin sekali menulis dari apa yang kau lihat di sela jendela

Kau melihat kepergian dan keresahan
yang sampai hari ini belum mampu kau tuangkan
dalam puisi-puisi di Minggu pagi.

Kau berhenti memegang pena
seperti minggu yang sudah-sudah
mengerutkan kening dan kertas
tanda tak mampu melaju dengan penguatan yang kau ciptakan di kening:

Mencintai itu seperti berlayar 
Saat kau lelah, berlabuhlah sebentar

Barangkali, jeda adalah tempat paling baik 
untuk kelanamu yang panjang

Dan seterusnya demikian! 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...