Menjelma Jarak
Kita harus menjelma jarak
kembali ke dalam untuk melebarkan diri
bagi gerbang abadi;
pun meninggikan tiang gapura-gapura
sebab Ia yang Jaya atas pertempuran
tengah memasuki kota-kota kita yang kini telah sepi
Mata kita telah menjadi air bagi akar daun-daun palem
di mana ia tumbuh dalam tangan dan mulut kita
yang tak henti-hentinya mengharap
Bukankah kehendak-Nya,
sebab denting kecapi pun nafiri
masih tidak tahu ampun gemanya?
sebab jarak menjadikan kita seperti keledai
di mana iman telah mengalaskan punggung
dan Tuhan mengibaskannya dengan seru dalam haru:
Ranting-ranting Zaitun itu telah menjelma jarak;
jarak yang bukan kesepian
Sebab dalam kerinduan,
masih kau teriaki
Hosana di tempat yang Mahatinggi!
Minggu Pagi
Minggu pagi, di teras rumahmu
kau menghaturkan syukur dan ujud sua
dalam doa-doa yang layaknya disampaikan pagi ini
Kau rapi sekali,
berpakaian kangen
memeluk dengan tangan-tangan
yang hari ini masih saja tak sampai
Sebelum sarapan, kau mengambil satu duduk
ingin sekali menulis dari apa yang kau lihat di sela jendela
Kau melihat kepergian dan keresahan
yang sampai hari ini belum mampu kau tuangkan
dalam puisi-puisi di Minggu pagi.
Kau berhenti memegang pena
seperti minggu yang sudah-sudah
mengerutkan kening dan kertas
tanda tak mampu melaju dengan penguatan yang kau ciptakan di kening:
Mencintai itu seperti berlayar
Saat kau lelah, berlabuhlah sebentar
Barangkali, jeda adalah tempat paling baik
untuk kelanamu yang panjang
Dan seterusnya demikian!

Komentar
Posting Komentar