Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Berry Unggas





Keluarga Langit

Subuh tadi, anak langit  merajuk. Sepulangnya ibu langit dari kepergian yang fana, ia hanya membawa gula-gula kesepian padahal anaknya itu hanya mengharap hening. Anak Langit menangis lama sekali, dalam rupa patah yang telah menjelma banyak rupa; lelah yang dalam, runtuh yang putus asa, dan cemburu yang kian menjadi asing.

Ia mengaduh kepada bapak langit yang tengah merokok karena gelisah dan gundah yang terbelit sebab cinta yang ia sampaikan lupa alamatnya teruntuk dan telah membuat ia dan ibu langit saling mengutuk. Ibu langit pulang dengan mimpi yang jatuh; bapak langit menyambutnya dengan kesiaa-siaan belaka.

Mereka bertiga menangis. 

Air matanya jatuh ke bumi, membuat kita harus berteduh di bawah payung yang terlebih dahulu telah menjadikan kita tiada!


Sembahyang

Ketika saya meminta keindahan
Tuhan memberi saya patah

Ketika hampir saja menyerah
Tuhan memberi saya pertemuan

Sejenak,
Tuhan memberi saya jarak
Supaya saya tahu
bahwa tidak ada tempat bagi pasrah
selain daripada doa


Emoticon

Suatu hari ia bikin status di facebook

Bersengketa lah lupa dan kenangan
seperti pengendara jauh yang tak mengharap hujan
sementara ibu bumi tak beri kemarau sudah sebulan
Pun pengendara hanya melamun
menerima tanah yang basah dengan sabar yang tak karuan
(Saya memberi Emoticon peduli)

Keesokan harinya ia bikin status lagi di Facebook

Pergi dan luka telah menciptakan kesepian
Sesuatu yang tidak pernah bahagia diberitakan koran
sebab yang tidak pernah berakhir mungkin
adalah mengingatnya dengan ingin
(Saya memberi Emoticon wow)

Lusa harinya, sekali lagi, ia bikin status di Facebook

Lupa dan luka adalah pelajaran menuju ikhlas
yang telah diselesaikannya walau tidak dengan lekas
Kecemasannya telah menjelma sabar
menunggu dari waktu ke waktu hingga menjadi segala tegar

(Saya memberi Emoticon super)

Selepas lupa
pergi
dan sabar
ia menutup akun Facebook

(meninggalkan saya dengan Emoticon sedih yang kekal...)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...