Keluarga Langit
Subuh tadi, anak langit merajuk. Sepulangnya ibu langit dari kepergian yang fana, ia hanya membawa gula-gula kesepian padahal anaknya itu hanya mengharap hening. Anak Langit menangis lama sekali, dalam rupa patah yang telah menjelma banyak rupa; lelah yang dalam, runtuh yang putus asa, dan cemburu yang kian menjadi asing.
Ia mengaduh kepada bapak langit yang tengah merokok karena gelisah dan gundah yang terbelit sebab cinta yang ia sampaikan lupa alamatnya teruntuk dan telah membuat ia dan ibu langit saling mengutuk. Ibu langit pulang dengan mimpi yang jatuh; bapak langit menyambutnya dengan kesiaa-siaan belaka.
Mereka bertiga menangis.
Air matanya jatuh ke bumi, membuat kita harus berteduh di bawah payung yang terlebih dahulu telah menjadikan kita tiada!
Sembahyang
Ketika saya meminta keindahan
Tuhan memberi saya patah
Ketika hampir saja menyerah
Tuhan memberi saya pertemuan
Sejenak,
Tuhan memberi saya jarak
Supaya saya tahu
bahwa tidak ada tempat bagi pasrah
selain daripada doa
Emoticon
Suatu hari ia bikin status di facebook
Bersengketa lah lupa dan kenangan
seperti pengendara jauh yang tak mengharap hujan
sementara ibu bumi tak beri kemarau sudah sebulan
Pun pengendara hanya melamun
menerima tanah yang basah dengan sabar yang tak karuan
(Saya memberi Emoticon peduli)
Keesokan harinya ia bikin status lagi di Facebook
Pergi dan luka telah menciptakan kesepian
Sesuatu yang tidak pernah bahagia diberitakan koran
sebab yang tidak pernah berakhir mungkin
adalah mengingatnya dengan ingin
(Saya memberi Emoticon wow)
Lusa harinya, sekali lagi, ia bikin status di Facebook
Lupa dan luka adalah pelajaran menuju ikhlas
yang telah diselesaikannya walau tidak dengan lekas
Kecemasannya telah menjelma sabar
menunggu dari waktu ke waktu hingga menjadi segala tegar
(Saya memberi Emoticon super)
Selepas lupa
pergi
dan sabar
ia menutup akun Facebook
(meninggalkan saya dengan Emoticon sedih yang kekal...)

Komentar
Posting Komentar