Langsung ke konten utama

Untuk Impet

 

                      Sumber: Gambar Ilustasi


Impet e. Sudah lama sekali tidak bertemu. Beberapa kali perjumpaan hanya via hp. Tapi itu tidak pernah benar-benar menghilangkan dahaga. Barangkali benar seperti yang om Candra Malik bilang kalo “aroma tubuh, dari jiwa yang rapuh, melebihi rindu, melampaui waktu. Berpelukan, untuk itulah kita dipertemukan.” 


Tapi, sa tetap temukan hikmah di balik setiap situasi e. Seandainya dulu kita tidak pernah memilih jarak, apakah perayaan bagi pertemuan tetap istimewa seperti dua kali dalam setahun sebagaimana yang kita rayakan selama ini ka? Saya tidak begitu yakin untuk mengiyakan itu pertanyaan ta, sebab syukur dalam bentuk yang berbeda tetap menghasilkan makna yang berbeda juga. 


Sekurang-kurangnya begini, kita bisa lebih mendekatkan diri pada Yang Esa. Karena “hidup adalah doa yang luas” seperti alm. Sapardi bilang. Kita belajar bahwa doa adalah cara memeluk dari jauh, awal dan akhir yang menciptakan. Seperti sabda Mba Nun yang pernah saya bacakan dua kali sebelum tidur, “Tuhan menciptakan jarak agar kita bisa melihat cinta dan melihat dengan cinta.”


Impet, waktu kaka tulis ini surat, hujan sedang turun e. Deras yang sadis betul saja ta. Sebelum hujan datang, kesepian lebih dahulu masuk di ini kepala. Impet tau to, kesepian dan hujan sama-sama menghasilkan basah. Memang, kita punya mata kadang tidak lebih sabar dari ingin. Tapi kita tetap kuat to? Kita memang harus selalu kuat aeh!


Akhirnya, kaka mau mengutip kalimat terkahir dari puisinya om Wessly Johanes yang berjudul Rindu Kamu. 


“Rindu memang lebih luas dari satu atau dua mata pelajaran. Ia tak selalu sempurna bila cuma dibahasakan atau dihitung, dan aku beruntung, pernah begitu menggemari pendidikan jasmani, terutama saat-saat pemanasan.”


Tadi kaka na mau tutup ini surat dengan kalimat “surat ini ditulis oleh jari yang lama tidak kau genggam.” Tapi ka, sudah mainstream betul itu kalimat im? Hehehe. Iya sudah em, Kaka mau tidur (lagi) dulu. 


Dari Kaka na, 

yang tidak begitu suka makan sayur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...