Mengapa Kita Tidak Harus Mengutuki Jarak?
Saya tidak sedang merindukan apa-apa, tetapi sekaligus tidak menolak kedatangan hujan sejak dua hari belakangan ini. Saya tidak ingat betul kapan terakhir kali ia bertandang di kota ini. Seketika, orang-orang ramai merayakannya, membuat story dan postingan yang cantik. Barangkali benar, ketika hujan turun, bertunas lah sajak dan puisi para cucu Sapardi.
Saya menikmatinya, seperti biasanya. Sering, saya melakukan hal yang sama. Hanya saja hari ini, kepala saya sedang dihuni pertanyaan besar, yang sudah saya renungi sejak beberapa hari yang lalu.
Mengapa kita tidak harus mengutuki jarak?
***
Saya pernah bertemu seorang ibu yang ditinggalkan suaminya untuk selama. Perjumpaan tidak sengaja itu terjadi di dalam sebuah perjalanan jauh menuju suatu tempat. Ia ingin bertemu anaknya sementara saya datang untuk memperpendek jarak dengan seorang kekasih. Kami datang dengan bekal yang sama, kerinduan namanya.
Perjalanan habis dengan perbincangan-perbincangan, mulai dari hal yang paling sederhana hingga kepada hal yang paling rumit. Kadang kami tertidur bila tidak ada lagi hal yang harus ditanyakan atau dijawab dengan serius. Ketika tempat tujuan tinggal satu jam lagi ditempuh, saya memberi pertanyaan yang saya pikir akan menjadi pertanyaan terakhir bagi pertemuan kami hari itu.
“Bu, bagaimana cara kita untuk bisa menikmati jarak?” tanya saya.
Ia terdiam. Demikian saya. Ini jeda paling panjang sejak pertanyaan pertama yang saya berikan.
“bagi beberapa orang, jarak adalah cara mendekatkan dirinya kepada penyesalan. Jarak lebih dekat kepada pengingkaran. Tapi, sesekali kau jangan menyesali jarak, nak. Nanti kau akan tahu bahwa ketidakhadiran bisa membuatmu yakin bahwa cinta akan tetap abadi adanya” jawab ibu itu. Tiba-tiba saya ingat apa yang pernah ditulis Gentakiswara. “sesekali kita juga butuh jarak yang teramat panjang agar kita mengerti bagaimana cara mencintai dalam ketidakhadiran.”
Gerimis baru saja jatuh di atap mobil yang kami tumpangi, tapi hujan sudah lebih dahulu jatuh lalu mengguyur sebagian wajah ibu itu.
***
Mengapa kita tidak harus mengutuki jarak?
Hari ini hujan lebih lebat dari dua hari sebelumnya. Saya tidak sedang merindukan apa-apa sekaligus tidak dapat menolak kedatangan hujan yang baru saja hadir sejak dua hari belakangan ini.
Barangkali demikian cara menikmati jarak, sesuatu yang tidak saya inginkan tetapi membiarkan keberadaannya, sebentar atau selama. Toh, cinta itu abadi!

Komentar
Posting Komentar