Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Berry Unggas



Berlabuh

Sebelum sepakat untuk berlabuh sampai selama,
kita pernah tabah dengan hal-hal yang sekadar;
menciptakan jeda antara tanya dan jawab

Dalam jeda itu,
aku ada di kapal yang lain
demikian juga dengan kau

Sebentar kita menikmati kelana
dengan rentang waktu yang berbeda;
bahkan pelayaranmu waktu itu lebih dari satu kali!

Jarak yang kita ciptakan, sebenarnya,
adalah tanda bagi kembali

Sebab sejauh mana pergi,
bukankah pulang adalah kemungkinan yang paling disemogaan?

Bulan hujan kita berlabuh;
pulang,
menetap dan tinggal.

Selama dengan harap abadi!




Semenjak

“Bagaimana kita menamai pertemuan ini?”

Kau mengambil duduk di sebuah meja
Aku di sebelahmu setelah sungkan sebetulnya
Kau tuangkan minum pada dua gelas;
yang satu untuk kita dan yang lain untuk ikhlas

Selepas pergi,
kita tidak mengenal lagi hal-hal abadi
Kau tinggal dan aku tanggal
(Juga sebaliknya demikian)

Lalu kita bertemu lagi hari ini
setelah ujud yang dipersiapkan jauh hari

Dengan apa kita menamai pertemuan ini?
Sebab aku lupa kalimat sebelum pergi
Sampai jumpa
atau
Selamat tinggal?

Kita pulang dengan masing-masing tanya di kepala
Meninggalkan segelas kita yang habis
Dan segelas ikhlas yang penuh masih penuh dengan air
(Air mataku-mu?)


Tamu

Sebelum cemas, kita ramai ke rumah Tuhan. Mengenakan sepatu baru yang dibeli dari keringat bapak dan baju yang dijahit ibu dengan segala tabah dan sabar. Tuhan menyapa kita dengan ramah. Sebagai tuan rumah yang baik, Ia memberikan kepada kita kelegaan; makan dan minum yang secukupnya, tenaga bagi tangan-tangan kita yang akan mengetik huruf membentuk kalimat Sunday, Jah Bless.

Setelah cemas, kita bersembunyi. Tuhan datang dengan baju yang itu-itu saja tanpa sepatu kenakan. Kita tak pernah menjadi tuan rumah yang baik, sebab dengkuran lebih besar dari ketukan pintu yang lebih dari tiga kali; liur yang lebih berlimpah dari syukur yang harus diulur.

Apakah Tuhan pulang dengan kesia-siaan kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...