Berlabuh
Sebelum sepakat untuk berlabuh sampai selama,
kita pernah tabah dengan hal-hal yang sekadar;
menciptakan jeda antara tanya dan jawab
Dalam jeda itu,
aku ada di kapal yang lain
demikian juga dengan kau
Sebentar kita menikmati kelana
dengan rentang waktu yang berbeda;
bahkan pelayaranmu waktu itu lebih dari satu kali!
Jarak yang kita ciptakan, sebenarnya,
adalah tanda bagi kembali
Sebab sejauh mana pergi,
bukankah pulang adalah kemungkinan yang paling disemogaan?
Bulan hujan kita berlabuh;
pulang,
menetap dan tinggal.
Selama dengan harap abadi!
Semenjak
“Bagaimana kita menamai pertemuan ini?”
Kau mengambil duduk di sebuah meja
Aku di sebelahmu setelah sungkan sebetulnya
Kau tuangkan minum pada dua gelas;
yang satu untuk kita dan yang lain untuk ikhlas
Selepas pergi,
kita tidak mengenal lagi hal-hal abadi
Kau tinggal dan aku tanggal
(Juga sebaliknya demikian)
Lalu kita bertemu lagi hari ini
setelah ujud yang dipersiapkan jauh hari
Dengan apa kita menamai pertemuan ini?
Sebab aku lupa kalimat sebelum pergi
Sampai jumpa
atau
Selamat tinggal?
Kita pulang dengan masing-masing tanya di kepala
Meninggalkan segelas kita yang habis
Dan segelas ikhlas yang penuh masih penuh dengan air
(Air mataku-mu?)
Tamu
Sebelum cemas, kita ramai ke rumah Tuhan. Mengenakan sepatu baru yang dibeli dari keringat bapak dan baju yang dijahit ibu dengan segala tabah dan sabar. Tuhan menyapa kita dengan ramah. Sebagai tuan rumah yang baik, Ia memberikan kepada kita kelegaan; makan dan minum yang secukupnya, tenaga bagi tangan-tangan kita yang akan mengetik huruf membentuk kalimat Sunday, Jah Bless.
Setelah cemas, kita bersembunyi. Tuhan datang dengan baju yang itu-itu saja tanpa sepatu kenakan. Kita tak pernah menjadi tuan rumah yang baik, sebab dengkuran lebih besar dari ketukan pintu yang lebih dari tiga kali; liur yang lebih berlimpah dari syukur yang harus diulur.
Apakah Tuhan pulang dengan kesia-siaan kita?

Komentar
Posting Komentar