Eks eFeR yang malang (tapi disayang). Eh?
“kaka kenapa keluar?”
“karena satu dua alasan ade.”
“pasti salah satu dari sekian banyak alasan itu karena perempuan im?”
“tidak ade, hehehe”
Beberapa hari lalu, saya menyelesaikan satu buku kumpulan Cerpen Seno Gumira Ajidarma. Saya menemukan kalimat yang menarik dari cerpen Travelogue, satu dari enam belas cerpen, yang dikemas Seno dengan analogi-analogi yang menarik. Bunga mawar yang terindah tidak selalu lebih indah daripada bunga rumput berembun yang cemerlang dalam denyar matahari pagi. Ini seperti pingsut. Jempol lebih unggul dari telunjuk, telunjuk lebih unggul dari kelingking, dan kelingking lebih unggul dari jempol. Hidup adalah perjudian (Ajidarma, 2019:59).
Dua analogi ini dalam tafsir lebih jauh saya, mau menegaskan ketidakmampuan manusia dalam mengetahui hal-hal yang akan terjadi pada masa depan. “Ketika dilahirkan tidak seorang pun mungkin mengetahui, apakah ia akan bahagia sepanjang hidupnya ataukah akan menderita selama-lamanya....” Seno, menurut saya, mau menggambarkan ketidakmampuan manusia dalam menjadikan sesuatu yang akan terjadi sebagai suatu hal yang pasti!
Kita bisa merencanakan, mencoba untuk meramal, namun beberapa hal dapat terjadi bahkan di luar dugaan dan rencana kita. Misalnya, seorang teman memaksimalkan nilai di semester ini dengan jaminan bahwa orangtuanya akan memberikan jatah bulanan yang lebih besar pada bulan ini. Perkiraannya meleset! Atau teman saya yang lain, pernah berbicara tentang rumah tangga yang ideal bersama dengan kekasihnya. Malang, usia hubungan mereka hanya seumur jagung. Dan saya pernah ingin sekali menjadi seorang pastor. Masuk seminari-menjadi eFer (Frater)-tahun lalu saya mengundurkan diri. Runtuh! Ini seperti pingsut!
Pertanyaan yang paling banyak menghampiri seorang eks frater adalah “kenapa keluar?”. Beberapa di antara mereka yang memberikan pertanyaan telah menciptakan jawabannya sendiri “pasti karena perempuan im”. Ah sial! Seorang eks yang waktu itu sedang jomblo dan sempat mengurung niat untuk menjadi eks karena takut tidak laku, harus dilabeli dengan alasan seperti itu. Pertanyaan ini muncul kapan saja, bahkan muncul dari orang-orang yang tidak dikenal, yang baru dikonfirmasi akun facebooknya lalu menodong dengan pertanyaan demikian. Bayangkan saja begini, seorang perempuan tengah duduk di halte bus lalu seorang laki-laki yang tidak dikenal datang untuk mengungkapkan perasaannya. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu? Saya merasa bahwa tidak ada kemungkinan bagi seorang perempuan untuk menerima, kecuali bila ia telah dirasung terlebih dahulu. Tetapi untuk menjaga etika dalam berkomunikasi, akan ada jawaban sederhana seperti ini, ”karena satu dua alasan, hehehe.”
Orang bertanya dari kapasitasnya. Seperti seorang tamu, ada yang sungguh memahami keberadaannya dengan menunjukkan etika bertamu yang baik. Tetapi tidak dapat dimungkiri, beberapa di antara mereka justru mengabaikan hal ini. Namun dalam refleksi lebih jauh, sebenarnya, pertanyaan-petranyaan tadi seakan mau menyiratkan bahwa betapa besar cinta umat beriman kepada mereka yang tengah berada dalam formasi pembinaan untuk menjadi imam.
Ketika berada di Seminari Menengah, seorang teman pernah menulis di papan tulis, mengutip bacaan yang telah ia habiskan. “Jangan terburu-buru atau kau akan mengubah jalan ceritanya, Tere Liye.” Ini bisa menjadi sebuah bahan refleksi bagi keputusan yang tidak mudah, yang dipilih oleh seseorang bukan dari kecerobohan. Kita telah menarasikan sebuah kehidupan, mengidealkan sebagaimana mestinya demikian. Namun yang tidak terhindarkan adalah keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia.
Manusia itu dinamis!
Yang bisa sja mengubah jalan ceritanya
karena bijak
atau salah pijak
Namun tak perlu sungkan
sebab pilihan,
sebenarnya,
bukanlah kebetulan- kebetulan
Tuhan yang menuntun!
Setelah memutuskan untuk menjadi apa, seseorang harus menerima konsekuensi-konsekuensi yang besar. Mengembalikan kepercayaan dari orang-orang dekat yang telah menaruh harapan besar bagi kehidupan panggilan adalah proses yang panjang. Ditambah dengan memikirkan cara yang paling tepat untuk menghadapi praduga-praduga seperti pertanyaan di atas.
Tulisan ini tentunya menjadi tidak seimbang bila saya menaruh segala kemalangan yang dialami oleh seorang eks frater. Sekurang-kurangnya ada pertanyaan begini, “terus ge apa yang enak jadi eks frater?” Dalam banyak hal mereka dipercaya dapat menanggung beberapa pekerjan. Misalnya, seperti narasi singkat dari realitas dan imajinasi kreatif yang pernah saya muat di facebook, seorang eks frater dipercaya dapat melakukan banyak hal seperti memperbaiki pipa air, pemandu latihan koor, memimpin katekese dan doa lingkungan, dan pekerjaan-pekerjaan lain sesuai kapasistasnya bahkan di luar kapasitasnya sebagai seorang eks. Eks frater tetap disayang oleh bapak-bapak, ibu-ibu, dan terlebih khusus buah hati mereka. Bukan kah benar demikian?
Komentar
Posting Komentar