Puisi-Puisi Berry Unggas*
Pagi dan Perempuan
Pada suatu pagi,
Di belakang kamar kos, dari kaca jendela yang sebagiannya pecah, saya melihat seorang perempuan sedang menenun.
Tetangganya, yang juga seusianya, lebih dari 40 tahun, sedang menyiram bunga-bunga di pekarangan rumah.
Berhadapan dengan pintu depan kos, seorang perempuan menyeduh dua gelas teh, barangkali gelas yang satu untuk suaminya sebab satu-satunya anak mereka tidak suka teh!
sementara di jalan-jalan,
penuh ibu tengah berpulang dari Gereja
Pada suatu pagi,
saya melihat perempuan-perempuan dengan penuh rahmat
Di mana sesama saya para pria?
(Barangkali masih saja mendengkur)
Ah Tuhan, apakah Kau dahulu menciptakan pagi hanya untuk seorang perempuan?
Suatu Hari Nanti
Bayangkan bila suatu hari nanti, ketika saya bangun dari tidur malam hingga pagi yang penuh dengan bunga tidur yang jenaka, kau sudah menyediakan segelas kopi di atas meja. Kau menutup rapat bibir gelas agar tidak ada nikmat yang benar-benar pergi.
Atau juga sebaliknya,
Di saat kau sudah terjaga dari kecemasan tentang kematian, matamu mendapati segelas teh di atas meja yang telah diseduh oleh tangan-tangan kecil ini.
“tangan perempuan tidak diciptakan untuk selalu melayani. Dua gelas di atas meja hanya tentang siapa yang terjaga lebih dulu”
Bayangkan bila suatu hari nanti, saya sudah berhenti merokok, sementara kosa kata kau tentang keluhan kematian yang pernah saya biasakan pelan-pelan mengembus.
“rumah kita harus seperti tempat ibadah. Satu atau lebih anak hanya boleh mendengarkan kalimat yang nikmat dari mulut dan kebiasaan kita yang baik”
Mendengar hal-hal sederhana seperti itu, untuk sekian kalinya Tuhan tertawa sambil merasa de javu saat dibangkitkan oleh Bapa-Nya.
Nita, 25 Nobember 2019.
*Berry Unggas, penyuka lagu Kunto Aji, Sal Priadi, dan Coldplay.

πππͺ
BalasHapusTerim kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan ini.
HapusLuar biasa ππsaya suks
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan iniπ
Hapus