Langsung ke konten utama

Bebas

Bebas..

Waktu itu Malam Minggu. Saya tidak ingat itu tanggal berapa. Yang benar-benar saya ingat, itu pertengahan bulan Maret dan saya sedang inginnya menulis kalimat.

"Situasi Padang Gurun"

Tuhan beri saya kemewahan kata dalam merapal doa
Saya sujud-sujud Ia dalam rupa-rupa sajak
Kalau bukan saja dalam rupa Ekaristi,
pasti dalam litani-litani syukur yang selalu menyaba saban hari.

Tapi,
Kadang kala saya sedang tidak tahu,
sebenarnya saya sedang berada di mana?

Malam itu lampu kamar sudah mati. Saya tidak menulis baris kalimat dalam sekali jadi. Di antara baris-baris kalimat, saya menyimpan sedikit jeda untuk menghisap rokok yang saya juga tidak ingat sudah pada batang ke berapa.

Sementara menulis dan menghisap rokok, saya mendengar sebuah lagu Fourtwnty yang judulnya Zona Nyaman. Saya mengulang bagian reff sampai beberapa kali.

Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi

Beberapa hari sebelum malam ini, saya sudah bertemu dengan seorang tuan dua kali. Perbincangan kami perihal kebebasan, kemerdekaan.

“tuan, saya ingin bebas dari hari ini sampai kapan saya akan selesai” ujar saya
“kau tahu apa itu bebas?” tanya tuan 
“tuan bisa melihat di kamus!” jawab saya
“kau harus tahu apa itu bebas. Mencobalah untuk sedikit bergerak dengan tidak melihat di kamus. Buat definisi sendiri yang lebih kontekstual tapi jangan mereduksi makna aslinya” ajak tuan sambil mempersilahkan saya untuk menepi.

Maka malam itu, saya benar-benar sendiri dengan pikir dan lagu Zona Nyaman, mencari sebuah makna bebas. Di kiri dan kanan kamar, teman saya mendengkur dengan sangat bebas sedangkan beberapa kamar di depan kamar saya, orang-orang masih berisik di dalam selimut, menyapa kenalan dengan suara yang sembunyi-sembunyi tidak dengan bebas.

Sementara mempertimbangkan makna bebas, seorang teman membuka pintu kamar saya lalu masuk tanpa mengetuk pintu.

“punya rokok ko?” tanyanya
“ambil satu, sisakan dua” jawab saya setelah mengingat dengan jelas jumlah 3 batang rokok yang tersisa dalam bungkusan. Itu kesengajaan, sebab teman saya suka mengambil dengan bebas setelah masuk kamar juga dengan bebas. 

Setelah teman itu keluar dari kamar, pikiran saya semakin panjang setelah menyimpan jeda. Saya membuka kamus berkali-kali tapi hasilnya nihil. Dua kali saya banting kamus itu dan hampir pada bantingan yang ketiga, saya mendengar suara sedikit memohon.

“kakak, jangan marah. Mungkin bisa bantingnya jangan keras-keras” mohon seorang adik kelas di luar kamar. Saya yakin, sebenarnya ia ingin menyuruh hanya terlalu merasa tidak bebas untuk melakukan itu. 

Setelah mempertimbangkan segala bentuk cakap, dengkur, dan telepon tadi, dalam hati saya bertanya, bebas? Ah, saya sudah menemukan jawaban. Dan malam itu saya bisa tidur dengan kepala yang cukup tenangnya.

Keesokan harinya, pertemuan saya dengan tuan terjadi lagi. Tuan menyuruh saya duduk tepat di hadapannya setelah saya dipersilahkan masuk. Dia membuka buku agendanya sambil sesekali menulis di situ.

“bagaimana, sudah temukan makna bebas?” tanya tuan 
“sudah tuan; sudah sekali.” Jawab saya tanpa ragu.
“bagaimana kau memaknai bebas?”
“bebas, kekang yang tidak disemogakan bukan?” jawab saya dengan menaruh tanya.
Tuan tersenyum dengan tidak enaknya. Tuan tidak merestui pisah, tapi ia juga sadar tidak punya hak atas kebebasan saya.
“kalau begitu kau boleh memilih sekarang, dengan kekang yang tidak disemogakan.” Jawabnya lalu mempersilahkan saya keluar.


Sembilu yang dulu

Biarlah membiru

Berkarya bersama hati

Kita ini insan bukan seekor sapi


Tanamkan pesanku

Agar tak keliru

Bekerja bersama hati



Labuan, 3 Agustus 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...