Langsung ke konten utama

Puan yang Suka Puisi


Puan yang Suka Puisi

“Kau suka lagu apa?”
“Semua lagu Sheila on 7. Lalu kau?”
“Saya suka lagu-lagu yang menggambarkan kisah kita”

Perempuan itu tidak pernah menamakan dirinya sebagai penyair walau beberapa orang suka sekali memuji tulisannya. Ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai cucu tuan Sapardi walau dalam kepalanya ada begitu banyak sajak-sajak Sapardi yang dilahapnya hampir pada setiap hari. Bila waktu menyediakan kehampaan, ia akan menulis beberapa kalimat puitis, dengan isyarat bagi hatinya yang tersurat mencintai. Apa saja!

Ia tidak memberikan kesempatan untuk menjawab bagi tanya yang lahir dari puisinya. Di antara gelisah dan ingin sekali ceroboh, ia pernah menulis tentang bagaimana cara memeluk kejauhan selain dengan doa.

Aku yang memeluk sepi dengan membenci bising
Adakah yang lebih rumit
Jika berpacaran dengan hening?

“apakah saya boleh menjawab?” tanya seseorang
“tidak. Itu tidak boleh. Kau hanya boleh membaca sambil merumus jawab untuk dirimu sendiri!” jawabnya
Perempuan itu menaruh satu kebijakan yang menarik bagi setiap puisinya, dan benar-benar tidak ada toleransi di dalamnya! Suatu hari, ia pernah bertanya sungguh tanpa puisi.

“kau ini sangat berbeda. Barangkali bentuk dari pengecualian manusia di semua tempat” adunya
“ah kau berlebihan sekali” jawab seseorang tanggung.
“kalau begitu, seberapa besar mungkin untuk kau menerima?” tanyanya lagi
“kau tidak suka jawaban bukan?” tanya seseorang sindir.

Perempuan itu merasa tak karuan tenangnya. Ingin sekali ia bilang bahwa ia hanya tidak suka jawaban bagi setiap puisinya. Hanya saja itu terlampau percuma. Sama saja!

Apakah pertemuan kita bisa ditepatkan?
Karena 60 detik terasa begitu lamban

Pemilik jam lupa waktu bertanya
Berapa umur hatimu yang tak pernah ditempati?

Ia pun menjawab:
Kira-kira 3 tahun lamanya
Sungguh!


Kepada perempuan itu seseorang membalasnya dalam batin, Kita tidak boleh menjadi sepasang kekasih yang dihasilkan karena ketergesahan...


Labuan, 25 Juli 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...