Cakap (1)
Sejak pertemuan pertama hingga yang keempat ini, perempuan itu masih saja tak ingin memberitahu namanya.
“panggil saja aku puan” katanya
“bagaimana bila aku memanggilmu Putri saja?” tanya seseorang
“terserah kau, asal saja nama itu masih sangat feminin” jawabnya.
Sejak perjumpaan itu, seorang laki-laki suka sekali menulis. Ia menghabiskan banyak malam untuk menciptakan puisi-puisi dengan banyak umpama jelita. Baginya, dari segala bentuk perjalanan, baik yang panjang maupun yang pendek, berdua dengan pikiran adalah yang paling rumit. Rute yang pendek terasa akan panjang dan yang panjang semakin akan memanjang, apalagi bila kau bertemu perjalanan dengan tema roman.
Apakah puan ingin
Jadikan pundak ini sebagai tempat mengaso
Wadah bagi segala cerita dan air mata?
Ia memulainya dengan tanya. Sebuah hubungan dimulai dengan tanya, pikirnya. Setelah selesai dengan kalimat tanya itu, ia menyeduh kopi. Kopi tidak hanya membawa kenikmatan pada lidah. Kopi bisa membuka segala pikir, bisa memilah kata yang terlalu manis dan terlampau pahit untuk sebuah kalimat.
Tidak perlu terlalu terburu-buru untuk mengiyakan,
Jangan terlampau cepat untuk meniadakan
Ia menghasilkan sendiri jawab bagi pertanyaannya. Malam itu ia tidur di atas pena dan kertas. Di hadapan segelas kopi yang menanggalkan ampas, ia mendengkur keras sekali.
Pada pagi yang terlalu dini, perjumpaan yang kelima harus terjadi. Ia mendapati seorang puan tengah menulis banyak kalimat di teras rumahnya. Pagi-pagi sekali sudah bertandang. Pagi-pagi sekali cantiknya sungguh, katanya.
Di dini hari ini,
aku ingin tidur di kepalamu
dan pada paginya nanti,
Bisa terjaga di matamu
Perempuan itu meninggalkan kalimatnya di situ. Tak diberi kesan gantung adalah kesengajaan, sebab sungguh setiap perempuan sangat ingin kepastian.
“maaf, terlalu dini kaki ini sudah menginjak jubin teras rumahmu” kata puan itu.
“tak apa, dini lebih baik dari pada tidak sama sekali” jawab sang tuan.
Di teras rumah, mereka banyak meninggalkan kata dalam dialog-dialog ringan. Tanya apa kabar dengan jawab baik-baik saja selalu menjadi yang pertama. Percakapan masih saja canggung oleh perasaan. Tidak ada yang berani bertanya perihal kehampaan. Siapa yang paling pertama harus jujur, tanya keduanya dalam masing-masing kepala.
“lalu siapa namamu?” tanya tuan.
“panggil saja aku puan” jawab sang puan.
Pada percakapan selanjutnya, segan lebih kuat dan enggan menghuni hampir isi kepala...
Kalau harus jujur, tuan itu ingin sekali sang puan menjadi seorang kekasih.
Kalau harus jujur, puan itu hanya suka setiap tulisan sang tuan. Tidak lebih, sungguh!
Labuan, 30 Juli 2019
Sejak pertemuan pertama hingga yang keempat ini, perempuan itu masih saja tak ingin memberitahu namanya.
“panggil saja aku puan” katanya
“bagaimana bila aku memanggilmu Putri saja?” tanya seseorang
“terserah kau, asal saja nama itu masih sangat feminin” jawabnya.
Sejak perjumpaan itu, seorang laki-laki suka sekali menulis. Ia menghabiskan banyak malam untuk menciptakan puisi-puisi dengan banyak umpama jelita. Baginya, dari segala bentuk perjalanan, baik yang panjang maupun yang pendek, berdua dengan pikiran adalah yang paling rumit. Rute yang pendek terasa akan panjang dan yang panjang semakin akan memanjang, apalagi bila kau bertemu perjalanan dengan tema roman.
Apakah puan ingin
Jadikan pundak ini sebagai tempat mengaso
Wadah bagi segala cerita dan air mata?
Ia memulainya dengan tanya. Sebuah hubungan dimulai dengan tanya, pikirnya. Setelah selesai dengan kalimat tanya itu, ia menyeduh kopi. Kopi tidak hanya membawa kenikmatan pada lidah. Kopi bisa membuka segala pikir, bisa memilah kata yang terlalu manis dan terlampau pahit untuk sebuah kalimat.
Tidak perlu terlalu terburu-buru untuk mengiyakan,
Jangan terlampau cepat untuk meniadakan
Ia menghasilkan sendiri jawab bagi pertanyaannya. Malam itu ia tidur di atas pena dan kertas. Di hadapan segelas kopi yang menanggalkan ampas, ia mendengkur keras sekali.
Pada pagi yang terlalu dini, perjumpaan yang kelima harus terjadi. Ia mendapati seorang puan tengah menulis banyak kalimat di teras rumahnya. Pagi-pagi sekali sudah bertandang. Pagi-pagi sekali cantiknya sungguh, katanya.
Di dini hari ini,
aku ingin tidur di kepalamu
dan pada paginya nanti,
Bisa terjaga di matamu
Perempuan itu meninggalkan kalimatnya di situ. Tak diberi kesan gantung adalah kesengajaan, sebab sungguh setiap perempuan sangat ingin kepastian.
“maaf, terlalu dini kaki ini sudah menginjak jubin teras rumahmu” kata puan itu.
“tak apa, dini lebih baik dari pada tidak sama sekali” jawab sang tuan.
Di teras rumah, mereka banyak meninggalkan kata dalam dialog-dialog ringan. Tanya apa kabar dengan jawab baik-baik saja selalu menjadi yang pertama. Percakapan masih saja canggung oleh perasaan. Tidak ada yang berani bertanya perihal kehampaan. Siapa yang paling pertama harus jujur, tanya keduanya dalam masing-masing kepala.
“lalu siapa namamu?” tanya tuan.
“panggil saja aku puan” jawab sang puan.
Pada percakapan selanjutnya, segan lebih kuat dan enggan menghuni hampir isi kepala...
Kalau harus jujur, tuan itu ingin sekali sang puan menjadi seorang kekasih.
Kalau harus jujur, puan itu hanya suka setiap tulisan sang tuan. Tidak lebih, sungguh!
Labuan, 30 Juli 2019
Komentar
Posting Komentar