Berlabuh Sebelum sepakat untuk berlabuh sampai selama, kita pernah tabah dengan hal-hal yang sekadar; menciptakan jeda antara tanya dan jawab Dalam jeda itu, aku ada di kapal yang lain demikian juga dengan kau Sebentar kita menikmati kelana dengan rentang waktu yang berbeda; bahkan pelayaranmu waktu itu lebih dari satu kali! Jarak yang kita ciptakan, sebenarnya, adalah tanda bagi kembali Sebab sejauh mana pergi, bukankah pulang adalah kemungkinan yang paling disemogaan? Bulan hujan kita berlabuh; pulang, menetap dan tinggal. Selama dengan harap abadi! Semenjak “Bagaimana kita menamai pertemuan ini?” Kau mengambil duduk di sebuah meja Aku di sebelahmu setelah sungkan sebetulnya Kau tuangkan minum pada dua gelas; yang satu untuk kita dan yang lain untuk ikhlas Selepas pergi, kita tidak mengenal lagi hal-hal abadi Kau tinggal dan aku tanggal (Juga sebaliknya demikian) Lalu kita bertemu lagi hari ini setelah ujud yang dipersiapkan jauh hari ...
Hari ini, saya menulis dari usia-usia yang belum selesai. Kelak, tulisan-tulisan yang menjaga usia-usia saya!