Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Puisi-Puisi Berry Unggas

Berlabuh Sebelum sepakat untuk berlabuh sampai selama, kita pernah tabah dengan hal-hal yang sekadar; menciptakan jeda antara tanya dan jawab Dalam jeda itu, aku ada di kapal yang lain demikian juga dengan kau Sebentar kita menikmati kelana dengan rentang waktu yang berbeda; bahkan pelayaranmu waktu itu lebih dari satu kali! Jarak yang kita ciptakan, sebenarnya, adalah tanda bagi kembali Sebab sejauh mana pergi, bukankah pulang adalah kemungkinan yang paling disemogaan? Bulan hujan kita berlabuh; pulang, menetap dan tinggal. Selama dengan harap abadi! Semenjak “Bagaimana kita menamai pertemuan ini?” Kau mengambil duduk di sebuah meja Aku di sebelahmu setelah sungkan sebetulnya Kau tuangkan minum pada dua gelas; yang satu untuk kita dan yang lain untuk ikhlas Selepas pergi, kita tidak mengenal lagi hal-hal abadi Kau tinggal dan aku tanggal (Juga sebaliknya demikian) Lalu kita bertemu lagi hari ini setelah ujud yang dipersiapkan jauh hari ...

Eks eFeR yang malang (tapi disayang). Eh?

Eks eFeR  yang malang ( tapi  disayang). Eh? “kaka kenapa keluar?” “karena satu dua alasan ade.” “pasti salah satu dari sekian banyak alasan itu karena perempuan im?” “tidak ade, hehehe” ​Beberapa hari lalu,  saya menyelesaikan satu buku kumpulan Cerpen Seno Gumira Ajidarma. Saya menemukan kalimat yang menarik dari cerpen  Travelogue , satu dari enam belas cerpen, yang dikemas Seno dengan analogi-analogi yang menarik. Bunga mawar yang terindah tidak selalu lebih indah daripada bunga rump ut berembun yang cemerlang  dalam denyar matahari pagi. Ini seperti  pingsut . Jempol lebih unggul dari telunjuk, telunjuk lebih unggul dari kelingking, dan kelingking lebih unggul dari jempol. Hidup adalah perjudian (Ajidarma, 2019:59). ​ Dua analogi  ini dalam  tafsir lebih jauh saya, mau menegaskan ketidakmampuan manusia dalam mengetahui hal-hal yang akan terjadi pada masa depan.   “Ketika dilahirkan tidak seorang pun mungkin mengetahu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...