Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019
Cakap (1) Sejak pertemuan pertama hingga yang keempat ini, perempuan itu masih saja tak ingin memberitahu namanya. “panggil saja aku puan” katanya “bagaimana bila aku memanggilmu Putri saja?” tanya seseorang “terserah kau, asal saja nama itu masih sangat feminin” jawabnya. Sejak perjumpaan itu, seorang laki-laki suka sekali menulis. Ia menghabiskan banyak malam untuk menciptakan puisi-puisi dengan banyak umpama jelita. Baginya, dari segala bentuk perjalanan, baik yang panjang maupun yang pendek, berdua dengan pikiran adalah yang paling rumit. Rute yang pendek terasa akan panjang dan yang panjang semakin akan memanjang, apalagi bila kau bertemu perjalanan dengan tema roman. Apakah puan ingin Jadikan pundak ini sebagai tempat mengaso Wadah bagi segala cerita dan air mata? Ia memulainya dengan tanya. Sebuah hubungan dimulai dengan tanya , pikirnya. Setelah selesai dengan kalimat tanya itu, ia menyeduh kopi. Kopi tidak hanya membawa kenikmatan pada lidah. Kopi bisa membuka se...

Puan yang Suka Puisi

Puan yang Suka Puisi “Kau suka lagu apa?” “Semua lagu Sheila on 7. Lalu kau?” “Saya suka lagu-lagu yang menggambarkan kisah kita” Perempuan itu tidak pernah menamakan dirinya sebagai penyair walau beberapa orang suka sekali memuji tulisannya. Ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai cucu tuan Sapardi walau dalam kepalanya ada begitu banyak sajak-sajak Sapardi yang dilahapnya hampir pada setiap hari. Bila waktu menyediakan kehampaan, ia akan menulis beberapa kalimat puitis, dengan isyarat bagi hatinya yang tersurat mencintai. Apa saja! Ia tidak memberikan kesempatan untuk menjawab bagi tanya yang lahir dari puisinya. Di antara gelisah dan ingin sekali ceroboh, ia pernah menulis tentang bagaimana cara memeluk kejauhan selain dengan doa. Aku yang memeluk sepi dengan membenci bising Adakah yang lebih rumit Jika berpacaran dengan hening? “apakah saya boleh menjawab?” tanya seseorang “tidak. Itu tidak boleh. Kau hanya boleh membaca sambil merumus jawab untuk dirimu sendiri!” ...

Puan Itu

Puan Itu Karya Berry Unggas “kau belum tertidur?”  “belum. Kalau sudah mengantuk, silahkan tidur mendahului.” “tidaklah baik seorang pria mendahului tidur kekasihnya. Jikalau dahulu begitu, hawa tidak harus makan buah terlarang bukan?” “kau selalu begitu, dengan umpama dan sangat membuatku tenang. Kalau begitu aku tidur dulu” Malam itu, seorang perempuan duduk dengan kecewanya. Ia tidak berharap dingin malam itu lebih dari dingin hari-hari sebelumnya. Ia juga tidak berharap bahwa kursi-kursi di teras rumahnya sudah dihuni oleh embun-embun yang datang terlalu dini. Ia butuh sebuah kehangatan, sungguh! Ia butuh segelas susu jahe panas atau barangkali lebih dari itu. Pelukan barangkali! Ia tertawa seketika sebab sudah salah menempatkan kata. Ia tidak butuh pelukan, ia hanya ingin. Kira-kira begitu. Perempuan itu suka sepi dan paling suka dengan sendiri. Pada beberapa kesempatan, ia akan melangkah jauh dari rumah kepada tempat sepi. Ia bisa cukup tenang dengan hanya melihat ...
“Solilokui” Berry Unggas* Suatu malam ada monolog tanya jawab seperti ini, “merindukan wanita itu mahal!” “berarti wanita itu matre” “ah em ah entahlah..” Saban hari di kamar, aroma rokok adalah yang paling abadi. Setiap ingin mengenang, ia harus menghabiskan batang-batang rokok. Puntung-puntung pada asbaknya sudah terberi nama wanita. Puntung-puntung itu dan mimpi basah seperti memiliki kenikmatan dengan porsi yang sama sebab alasannya adalah sama yakni seorang perawan! Mengalami rindu sambil merokok adalah perpaduan yang amat nikmat. Di kepalanya, kerinduan tanpa doa dari dupa-dupa batang-batang rokok adalah yang paling fana. Tugas yang diberikannya kepadamu hanya percaya. Tidak boleh ada keraguan. Kalaupun ada, siapa yang paling peduli? Kira-kira begitu. “marilah menuaikan ibadah rindu dengan merokok. Kalau pun harus mati, itu adalah konsekuensi yang paling logis. Media akan beramai-ramai menulis berita tentang kematian seseorang karena merokok. Tanpa mereka tahu kalau y...