Langsung ke konten utama

Puan Itu

Puan Itu

Karya Berry Unggas


“kau belum tertidur?” 
“belum. Kalau sudah mengantuk, silahkan tidur mendahului.”
“tidaklah baik seorang pria mendahului tidur kekasihnya. Jikalau dahulu begitu, hawa tidak harus makan buah terlarang bukan?”
“kau selalu begitu, dengan umpama dan sangat membuatku tenang. Kalau begitu aku tidur dulu”

Malam itu, seorang perempuan duduk dengan kecewanya. Ia tidak berharap dingin malam itu lebih dari dingin hari-hari sebelumnya. Ia juga tidak berharap bahwa kursi-kursi di teras rumahnya sudah dihuni oleh embun-embun yang datang terlalu dini. Ia butuh sebuah kehangatan, sungguh! Ia butuh segelas susu jahe panas atau barangkali lebih dari itu. Pelukan barangkali! Ia tertawa seketika sebab sudah salah menempatkan kata. Ia tidak butuh pelukan, ia hanya ingin. Kira-kira begitu.
Perempuan itu suka sepi dan paling suka dengan sendiri. Pada beberapa kesempatan, ia akan melangkah jauh dari rumah kepada tempat sepi. Ia bisa cukup tenang dengan hanya melihat senja. Beberapa orang pernah bertanya mengapa ia harus mencari. Ia hanya bilang, cinta tak pernah butuh alasan!
Kalau saja sebelumnya tidak tahu bagaimana mudahnya patah hati, ia pasti ingin berdua. Ia selalu berada dalam kegelisahan menerima sebab sudah banyak belajar tentang bagaimana mudahnya patah hati untuk melupakan yang terlampau mahal.

Beberapa kehilangan telah ia rayakan dengan doa. Di hari Minggu, pada sore hari, dia selalu mengambil satu tempat di kursi jenjang sebuah gereja yang cukup jauh dari rumahnya. Ia tidak pernah merayu Tuhan dengan doa-doa yang bagus, yang harus dengan irama atau bahkan dengan umpama. Sungguh, ia tidak suka hal-hal yang rumit, berpikir tentang kalimat yang bagus. Perempuan itu yakin bahwa Tuhan telah menciptakan doa Bapa Kami dengan sangat romantis. Bapa Kami yang ada di Surga, dimuliakanlah nama-Mu sudah mewakili puji dan syukur. Berikanlah kami rezeki pada hari ini adalah wakil bagi setiap minta, termasuk ia yang ingin dipertemukan dengan yang benar-benar berjuang, bukan sekadar merayu!

Di malam yang dingin yang teramat, perempuan itu mendengar beberapa lagu. Baginya, lagu yang bagus adalah lagu yang punya musik yang bagus. Musik bagi sebuah lagu bagai tuan rumah yang ramah untuk seorang tamu, katanya.
Ia mulai dengan lagu Sampai Jadi Debu karya Banda Neira. Ia pernah dirayu akan menjadi pasangan yang kian sama-sama akan menjadi debu, sampai berada pada liang yang bersebelahan di mana bersama adalah selamanya. Ia pernah nyaman sampai berpikir bahwa mereka kelak akan menjadi abadi.

Selamanya..
Sampai kita tua Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Lagu itu habis pada pukul 00.50 setelah didengar empat kali berturut-turut. Perempuan itu ingin sekali tertidur dalam lega. Ia merasa hampir tenang, hanya saja hampir sama sekali tanggung karena tak tuntas.  Ia mencoba mencari beberapa kalimat yang akan cukup membuatnya tenang. Ia kemudian sampai pada sebuah puisi.

Bayangkan saja begini, suatu hari aku mengajak ibumu untuk jalan-jalan, bercerita  tentangmu, calon kekasihku, putri ibumu. 

"Bu, saat mana engkau melahirkan putrimu?"
"Saat embun sudah merayu untuk menempel di dedaunan. Saat pagi belum begitu sempurna terangnya. Dini hari nak, saat kau yang lebih tua dua tahun sudah tertidur pulas barangkali setelah menangis dan tertidur dalam susu ibumu"
"Ah ibu, saat berusia dua tahun aku sudah amat sering begadang di dalam sudah lelapnya ibuku. Mungkin itu sebuah perayaan menerima bu."
"Yah nak, barangkali demikian. Seorang laki-laki tidak boleh tertidur sebelum perempuannya tertidur. Kalau dahulu begitu, hawa tidak harus makan buah terlarang bukan?"

01.15, kau barangkali sudah lelap nun jauh di sana. Demikian, sudah cukup waktu untuk menahan kantuk. Selamat tidur puan, calon kekasih, putri ibumu.

Ia ingat baik, puisi itu ia baca dari sebuah pesan singkat dalam cakapnya dengan seorang pria. Pria itu sudah membuatnya tenang, hanya saja ia masih terlampau takut untuk menerima.

01.00, dini semakin dingin. Perempuan itu sudah tertidur setelah berdoa “Berikanlah kami rezeki pada hari ini”...



Labuan, 24 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...