Mengapa Kita Tidak Harus Mengutuki Jarak? Saya tidak sedang merindukan apa-apa, tetapi sekaligus tidak menolak kedatangan hujan sejak dua hari belakangan ini. Saya tidak ingat betul kapan terakhir kali ia bertandang di kota ini. Seketika, orang-orang ramai merayakannya, membuat story dan postingan yang cantik. Barangkali benar, ketika hujan turun, bertunas lah sajak dan puisi para cucu Sapardi. Saya menikmatinya, seperti biasanya. Sering, saya melakukan hal yang sama. Hanya saja hari ini, kepala saya sedang dihuni pertanyaan besar, yang sudah saya renungi sejak beberapa hari yang lalu. Mengapa kita tidak harus mengutuki jarak? *** Saya pernah bertemu seorang ibu yang ditinggalkan suaminya untuk selama. Perjumpaan tidak sengaja itu terjadi di dalam sebuah perjalanan jauh menuju suatu tempat. Ia ingin bertemu anaknya sementara saya datang untuk memperpendek jarak dengan seorang kekasih. Kami datang dengan bekal yang sama, kerinduan namanya....
Hari ini, saya menulis dari usia-usia yang belum selesai. Kelak, tulisan-tulisan yang menjaga usia-usia saya!