Menjelma Jarak Kita harus menjelma jarak kembali ke dalam untuk melebarkan diri bagi gerbang abadi; pun meninggikan tiang gapura-gapura sebab Ia yang Jaya atas pertempuran tengah memasuki kota-kota kita yang kini telah sepi Mata kita telah menjadi air bagi akar daun-daun palem di mana ia tumbuh dalam tangan dan mulut kita yang tak henti-hentinya mengharap Bukankah kehendak-Nya, sebab denting kecapi pun nafiri masih tidak tahu ampun gemanya? Kau temukan jalanan serupa Yerusalem yang tak ramai sebab jarak menjadikan kita seperti keledai di mana iman telah mengalaskan punggung dan Tuhan mengibaskannya dengan seru dalam haru: Ranting-ranting Zaitun itu telah menjelma jarak; jarak yang bukan kesepian Sebab dalam kerinduan, masih kau teriaki Hosana di tempat yang Mahatinggi! Minggu Pagi Minggu pagi, di teras rumahmu kau menghaturkan syukur dan ujud sua dalam doa-doa yang layaknya disampaikan pagi ini Kau rapi sekali, berpakaian kangen memelu...
Hari ini, saya menulis dari usia-usia yang belum selesai. Kelak, tulisan-tulisan yang menjaga usia-usia saya!