Langsung ke konten utama

Mendengarkan Amin Paling Serius karya Sal Priadi dan Nadin Amizah

Mendengarkan Amin Paling serius karya Sal Priadi dan Nadin Amizah

(Teruntuk Katarina)


Di matamu aku melukis jumpa, 
di hatimu aku menulis kita. 
Abadi, kekasih!!!

Katarina, perempuan yang kusebut sebagai kekasih...

Kita lahir dari dua musim yang berbeda, hujan dan kemarau.
Kau tumbuh dari gema rintik-rintik isyarat isak-isak pertemuan yang basahnya adalah rindu dan aromanya adalah keinginan pada pertemuan yang hanya boleh selesai atas nama kita. Sementara aku tumbuh dari musim kemarau pada tuarang panjang dimana sua menjadi kering sehingga tangan-tangan kecil yang tak bisa merangkul selalu mengatup tunak dalam semoga-semoga; semoga dipersatukan, dan semoga dipertuankan.
Tapi kita sebenarnya lahir dari ibu yang sama, rindu namanya.


Katarina yang terkasih....

Satu hari di bulan Mei adalah awal penantian kekasih, setelah kau butuh waktu dan aku terus memungut peduli. Untuk pagi yang tak tidur di hari itu, terima kasih karena telah menerjemahkan usaha dengan baik dan bijak, menempatkan kata yang layak dan kalimat yang tidak salah pijak.

“menunggu adalah kesediaan. Sampai kapan pun, sampai kau hanya sekadar suka atau sudah sampai pada jatuh cinta” beraniku di hari itu.

Satu hari di bulan tujuh kau meminta hari yang lebih dalam bahasa yang rapi. Kau barangkali tengah menyiapkan payung sebelum hujan dengan kalimat Zasdar: "cinta bukan perasaan yang gampang tidur." 
Yang paling romantis adalah tungguku-mu. Kau selalu menyediakan cermin di hadapan wajah kita, melihat diri sendiri dengan lamat-lamat, apakah kita hanya tengah ingin atau benar-benar butuh; apakah kita hanya dihuni rayu atau benar tulus; dan apakah kita adalah sepasang atau dua orang yang terpisah dengan ego-ego yang terlampau besar?

Katarina dalam banyak semoga di doa-doa saban hari...

Di satu hari bulan Agustus, kepalamu kemudian adalah yang dipertuan aku sebagai huni yang memperoleh wijaya setelah berbulan-bulan dijajah tunggu dan benar-benar walafiat ketika kau telah memberikan kumandang terima. Kita menjadi amin dari semoga-semoga, menjadi sepasang orang utas dalam menyelesaikan jarak dengan doa, dengan berura-ura tentang cara beribadah rindu-rindu sedikit yang kian menjadi bukit. Dalam keningmu, kau menerungku dalam amin dari semoga-semoga yang paling serius! Kita adalah sepasang ugahari, dimana kau adalah perahu yang tengah berlabuh sambil melanggungkan haluanmu di tepian keningku.

Di matamu aku melukis jumpa,
di hatimu aku menulis kita. 
Abadi, kekasih!




Nita, 9-9-19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Berry Unggas

Ilustrasi: Pixabay Kultus Sekotah air menghunjam kuat-kuat. Tanpa aba-aba, di atas bibir-bibirmu yang menggigil. Kau sebut itu kecupan pertama; kultus bagi inginmu yang harus lebih sabar dari tabah.  Dalam hening, sedemikian saksama, kau menggigit dingin di bibirmu. Kau bangun monolog syahdu, menyusun ujud dengan semoga ranum.  "Yang pertama telah menyiapkan jalan bagi yang kedua," hardikmu.  Maka termasyhurlah doa dari bibir-bibirmu yang perawan itu. Terbahana pada banyak telinga, sebab sekotah air telah menjelma ladang yang subur bagi keindahan yang tidak tergesa-tergesa. Kelahiran Para lelaki tidak melihat apa-apa. Mereka hanya dapat menerka, lebih banyak menghitung bahwa di setiap bunyi detak jantung ibu, ada rasa takut dan doa yang berjalan beriringan. Semoga Mencintaimu adalah sepatah dua kata yang tidak dapat diterka, panjang atau pendek naskahnya. Mencintaimu adalah menjaga yang pada dalam isinya, terdapat banyak khawatir dan semoga. Perjalanan Kau berharap menemu...

Puisi-puisi Berry Unggas

Siapakah Aku Ini Pukul 12.00, di bait-Mu yang suci aku, selepas sujud Malaikat Tuhan, tengah menengadah membilang layar, menangkup membilang lantai dengan semoga-semoga keberkalaan demi jawab dari tanya siapakah aku ini? Dalam pencarian akan tanya ini Kau memberikan ikhtiar-ikhtiar yang kemudian dapat aku pilih sebagai yang tinggal atau yang tanggal? Siapakah aku ini di bait-Mu yang suci? Kutemukan jawaban dari lapar akan tubuh-Mu yang kudus dan dari haus akan darah-Mu yang suci Manusia adalah karya-Mu yang ajaib, rumpang-rumpang yang tiada letih tuk Kau rampung Tanah liat yang pernah Kau mulai dari kebaikan yang tidak akan pernah selesai sampai Kekal Tuhanku, sungguh! Ketika tengah mencintai, kita tidak benar-benar menciptakan hening. Saya bertamu tepat pukul 20.00. Waktu yang cukup ramah bagi sebuah rumah walau tidak terlalu diam untuk malam. Sebab di luar masih ada begitu banyak orang yang tengah berkendara, mencari pada rumah mana mereka bena...

Malam dan Mantra-Mantra

Foto twitter:  @sofwanchild Waktu kelas 1 SMP, RD. Emil Sarimas selaku guru Bimbingan Konseling pernah menyuruh kami untuk membuat roster belajar pribadi. Cara praktisnya adalah dengan menempatkan mata pelajaran yang paling sulit pada waktu belajar yang dianggap paling kondusif. Oleh karena itu, langkah awal yang dibuat adalah dengan mempertimbangkan pada waktu mana dari tiga waktu belajar (dua kali belajar sore dan satu kali belajar malam) yang dianggap paling kondusif. Hasil akhirnya adalah lebih dari setengah siswa kelas 1 SMP Seminari Kisol memilih malam hari sebagai waktu paling kondusif. Konsekuensi paling logis tentu berlimpah ruahnya buku Matematika, Fisika dan Kimia di atas meja! Empat tahun kemudian, di tempat yang sama (Seminari Pius XII Kisol), hampir seluruh warga OSIS SMA berada di depan TV untuk menghabiskan waktu rekreasi. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu Terlalu Lama Sendiri yang diciptakan oleh Kunto Aji. Terlalu Lama sendiri seakan...